Jumat, 21 Juni 2013

sampah modern

(klik untuk memperbesar)

Sampah modern adalah gambaran bagaimana orang-orang zaman sekarang dengan mudahnya membuang sampah ke sungai yang bukan hanya sampah fisik lagi, tetapi mereka menyia-nyiakan kepintaran, hati, jantung sebagai simbol kehidupan, sumber ilmu, kekayaan dan celana dalam sebagai simbol kehormatan.



Lisensi Creative Commons
"sampah modern" oleh Aziz Abdurachman disebarluaskan 

Minggu, 16 Juni 2013

KABATAKU, 10−2+4=? - Misconception #31



Kali ini Serial Kesalah Pahaman berkolaborasi dengan Misteri Angka.
Jadi apakah Kabataku itu benar?
Bagi yang belum konek, kabataku adalah urutan proses operasi dari penjumlahan, pengurangan, pembagian dan perkalian dalam suatu soal yang terdiri lebih dari satu operasi. Urutannya adalah Perkalian, lalu Pembagian, lalu Penjumlahan dan terakhir Pengurangan. Disingkat Kabataku (kali, bagi, tambah & kurang), begitu kebanyakan guru matematika di Indonesia menyebutnya.

Tapi apakah kita harus percaya tanpa harus membuktikan kebenarannya? Seperti yang pernah saya bahas tentang π (pi) yang sebenarnya tidak tepat kalau hasilnya adalah 227, tapi karena sudah terlanjur diajarkan kepada anak-anak sejak sekolah sampai perguruan tinggi jadi susah untuk diperbaiki.


Ok, kita mulai ke topik, berdasarkan urutan operasi yang diajarkan guru, berapakah hasil dari:
10 − 2 + 4 = ?
Apakah hasilnya 12 atau 4?

Coba kita gunakan formula ajaib yang diberikan oleh guru, pertama penjumlahan dulu lalu pengurangan.
= 10 − 2 + 4
= 10 − (2 + 4)
= 10 − 6
=  4
Hmm, hasilnya 4!


Lalu bagaimana dengan
16 ÷ 2 × 4 =?
Apakah hasilnya 32 atau 2?

Coba kita gunakan formula ajaib ibu guru lagi.
= 16 ÷ (2 × 4)
= 16 ÷ 8
=  2
dan hasilnya adalah 2!


Hmm, tapi apakah itu benar?

Jumat, 14 Juni 2013

"Hari" vs "Malam"

Anak jaman sekarang itu yah, kalo hari sabtu lewat dari jam 6 sore dibilangnya malam minggu.
Tapi kalo diucapin selamat ulang tahun di H-1 jam 7 malam dibilangnya "belum" atau "kecepetan!".

Minggu, 09 Juni 2013

Wujud Zat Ada 3? - Misconception #30



Kembali lagi dengan serial salah paham, maaf untuk delay yang cukup lama, dan mungkin mulai post ini Misconception Series bakalan ngebahas satu poin setiap post aja, biar ga kecapean baca yang panjang-panjang.


30. Wujud Zat Ada 3?

Ini sebenarnya bukan kesalah pahaman, tetapi jika untuk indonesia 500 tahun yang lalu, dimana wujud yang diketahui baru hanya padat, cair dan gas saja., tidak untuk sekarang. Wujud zat seharusnya ada 4 dan sudah harus diajarkan sejak sekolah dasar, yaitu Padat, Cair, Gas dan Plasma.

Coba lihat bagan berikut:

Sabtu, 01 Juni 2013

Berani karena benar, takut karena ...?

"Berani karena benar, takut karena salah". Menurut saya pepatah itu ga baik untuk dijadikan pedoman, malah pepatah untuk orang-orang itu menjadi "Berani karena benar, tapi takut mengakui kesalahan" karena ga ada satupun dari mereka yang berani untuk itu. Mereka cuma berani karena yang mereka pikir mereka yang benar.
 
Dan juga hampir semua orang yang berpegang pada kalimat itu pasti akan selalu menyalah artikan untuk membela diri dengan prinsip "Kalo gua ga salah, ngapain gua mundur?", lalu ia memojokan kesalahan orang lain tanpa sadar diri dengan kesalahannya sendiri, jadi "berani karena benar, takut karena salah" itu bergabung dengan "gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan terlihat". Suatu kombinasi yang indah sekali untuk memunculkan perselisihan abadi.

Hmm, tapi sebenarnya masih kurang satu lagi. Sebagian orang yang berani mengakui kesalahan itu cuma bisa mengakui saja, tapi tidak bisa/tidak mau memperbaikinya. Yaahh, indah sekali...!




Kesimpulan:
Banyak orang yang berani karena benar, tapi tidak berani untuk mengakui kesalahan diri sendiri.
Banyak orang yang mau mengakui kesalahan, tapi tidak memperbaikinya.

Selasa, 28 Mei 2013

π = 22/7 ?

Menyambung dari tulisan sebelumnya, hampir semua hitungan yang ada di semesta adalah hasil dari pembulatan, salah satunya adalah π.

Misalnya saja kamu menghitung volume suatu benda yang kamu klaim sebagai bentuk bola sempurna yang sudah diketahui diameternya dan π = 227, tetapi ternyata π = 227 itu masih kurang tepat juga, karena angka itu didpatkan oleh Archimedes dengan membuat poligon pada sisi luar dan sisi dalam lingkaran seperti ini,
sumber: wikipedia
hingga ia mendapatkan angka keduanya yang hampir sama di poligon yang memiliki 96 sisi, yaitu 227 dan 22371, dan diketahui kalau 22371π < 227. Dari situlah hasil "perkiraan" dari π ditetapkan, tapi lingkaran masih bukan bentuk dari 96 sisi poligon kan?

Dimanakah Letak Angka 2 Itu?

Sebenarnya ini yang ingin saya bahas di tulisan sebelumnya yang terlalu ngelantur tentang tambah-tambahan itu, ya saya memang akui jika secara teori dan secara matematis itu memang salah besar. Tapi, karena ngelantur itu saya sengaja awalnya hanya mengkategorikan di Lv. I saja tidak di Science / Knowledge, walaupun akhirnya saya masukan kedalam dua kategori itu, karena perbincangan yang sebenarnya ingin saya bahas sedikit berawal dari situ.

Begini yang sebenarnya ingin saya bahas, walaupun di matematika sebenarnya kita sangat bisa menentukan hasil perhitungan angka dengan tepat, dengan rumus yang konstan, untuk mendapatkan hasil perhitungan yang pasti, tetapi hal ini hampir mustahil untuk dilakukan secara tepat di semesta. Dan ya, kata kunci di tulisan ini adalah "menurut saya". Semua hasil perhitungan di bumi ini hanyalah bilangan hasil pembulatan dari bilangan yang sebelumnya adalah hasil penjumlahan/perkalian/pemangkatan/dll dari beberapa bilangan yang merupakan hasil pembulatan dari bilangan yang sebelumnya adalah hasil penjumlahan/perkalian/pemangkatan/dll dari beberapa bilangan yang merupakan ..., dst dst dst.

Intinya seperti ini: semua bilangan tentang sesuatu yang menyangkut tentang alam semesta (perhatikan, bukan di dalam soal rumus & matematika) merupakan hasil dari pembulatan, perkiraan atau rata-rata. Tidak ada bilangan bulat yang pasti disini.

Rabu, 15 Mei 2013

2010s, oh 2010s

Entah gue yg pedofil, atau cewek SMP jaman sekarang yang makin hot.
hmm.
Entah cowok jaman sekarang yang makin cantik, atau... ah sudahlan!

Senin, 13 Mei 2013

2+2=6

Pandangan setiap orang memang berbeda-beda, seperti di tulisan yang sebelumnya dan/atau yang orang lain perdebatkan , tentang gelas yang setengah penuh atau setengah kosong, dan ditambah dengan tidak ada yang sempurna di dunia, hal ini bisa membuat perbedaan yang sangat besar.

Mari gunakan penjumlahan angka 2 dengan dua, berapakah hasilnya?

(sebelumnya perhatikan dulu, di tulisan ini pemisah desimal dan pecahan adalah tanda koma ",")


Begini, dari sudut pandang "tidak ada yang sempurna" tahap pertama, saya bisa saja simpulkan kalau angka 2 itu, bisa saja berasal dari pembulatan angka lain di dekatnya, misalnya antara angka 1,000000000001 s/d 2,999999999999.

Lalu, tahap kedua, bahwa tidak ada yang persis tahu tentang kepastian bilangan, misalnya dalam contoh ukuran panjang/jarak, tidak ada yang persis tahu jika ukuran angka 2 itu ada di unit yang mana, jika kita tempatkan misalnya angka 2 itu pada unit meter, lalu kita konversi unit dari meter ke milimeter,